Boneka Potty, bagaimana caranya?
Ternyata Boneka Potty yang lucu ini bukan hanya unik dan cantik bila digunakan sebagai dekorasi namun juga memiliki manfaat lain yaitu mengajarkan orang bertanam sayuran. Bila kesulitan dan bingung bagaimana caranya berikut teh Fina akan mengajarkan cara menanam sayur di rumah.
Tahapan budidaya tanaman
1. Persemaian di Boneka Potty
Persemaian merupakan proses perkecambahan hingga bibit tanaman siap pindah. Tahapan persemaian dilakukan di atas pot Boneka Potty dengan media tanam yang sudah disediakan. Siapkan benih yang akan disemai. Benih cabai rawit dan terong agar lebih cepat tumbuh dapat direndam dengan air hangat (50̊C) selama 24 jam. Biji tomat dan timun tidak perlu perendaman.
Sebelum persemaian dilakukan, ambil sejumput media tanam diatas boneka potty kemudian taburkan benih dengan rata diatas permukaan media tanam lalu tutup kembali dengan media tanam yang sudah diambil.
Simpan boneka di tempat yang ternaungi agar tidak terkena matahari langsung dan siram secara rutin 2 x sehari agar kelembabannya terjaga.
Waktu yang dibutuhkan untuk berkecambah setiap jenis sayur berbeda-beda. Tomat dan timun membutuhkan waktu 4-6 hari lebih cepat dari cabai dan terong yang membutuhkan waktu sekitar 15 hari. Lamanya tahap persemaian 3-4 minggu hingga tanaman memiliki tinggi sekitar 10 cm dan jumlah daun 4 helai dengan kondisi 2 daun terbuka dan 2 daun lainnya masih kuncup. Pada kondisi itu berarti tanaman sudah siap untuk proses pemindahan atau transplanting.
2. Transplanting/ Pindah Tanam
Pindah tanam dilakukan setelah tanaman berumur 3-4 minggu dan batangnya terlihat kuat. Sebelum proses transplanting, pot besar sebagai tempat tumbuh harus dipersiapkan dulu. Caranya yakni :
a. Siapkan pot/wadah berdiameter 20-30 cm yang telah diisi dengan media tanam berupa tanah, arang sekam dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1.
b. Siapkan lubang pada media tanam.
c. Cungkil pot Boneka Potty menggunakan kayu kecil atau sendok. Usahakan agar media tanam ikut terbawa bersama dengan akar tanaman dan tidak ada akar yang terpotong.
d. Pilih 3 tanaman dengan pertumbuhan yang paling baik dan sehat, sisakan tanaman lainnya di Boneka Potty.
e. Pindahkan tanaman dan masukkan akarnya ke dalam lubang, tekan-tekan bagian akar yang tertutup agar tanaman berdiri kokoh dan tidak mudah rebah.
f. Tutup dengan media tanam hingga mencapai 2 cm dari bibir pot.
g. Buat lubang-lubang kecil disekitar bibir pot, masukkan pupuk NPK perbandingan 15:15:15 dengan jumlah 1.5 gram per pot.
h. Siram dengan air dan simpan di tempat yang terbuka.
3. Pemeliharaan Tanaman dalam Pot
a. Penyiraman
Penyiraman dengan air dilakukan pada pagi dan sore hari sebanyak 1 gelas aqua atau 250 ml. Tambahkan jumlah air siraman bila tanaman sudah semakin banyak, siram hingga media tanam basah dan air mengalir keluar dari bawah pot.
b. Pembersihan gulma
Cabut gulma apabila tumbuh di sekitar tanaman.
c. Pemupukan
Pada awal pertumbuhan berikan pupuk daun yang disemprotkan pagi hari interval seminggu sekali menggunakan pupuk daun khusus pertumbuhan vegetatif. Apabila sudah memasuki masa pembungaan ganti pupuk daun khusus pertumbuhan generatif dengan komposisi Fosfor yang tinggi untuk membantu merangsang pembentukan bunga dan buah. Lakukan penyemprotan hingga tajuk tanaman basah. Dosis pupuk 3 gram/liter air.
Apabila ingin menanam secara organik dapat digunakan bahan pupuk alami antara lain :
• Urin kelinci atau kambing karena mengandung nitrogen tinggi yang baik untuk pertumbuhan. Urin dapat diberikan dengan menyiram di atas permukaan media tanam 3x seminggui dengan jumlah 100 ml/pot.
• Air cucian beras, daging, atau ikan.
• Ampas teh yang direndam semalaman, airnya dapat disiramkan ke tanaman.
• Kulit pisang. Simpanlah beberapa hari hingga kulit pisang berwarna kecoklatan dan tampak kering. Tumbuk kulit pisang hingga lembut, lalu taburkan tiap pagi dan sore pada tanaman.
• Abu bekas bakaran kayu, dapat ditabur diatas pot.
d. Pemberian turus
Pemasangan turus atau ajir dilakukan untuk menahan tegaknya tanaman. Turus menggunakan kayu atau bambu dengan panjang 1.5 meter, lebar 4 cm dan tebal 2 cm. Tancapkan turus 10-20 cm dari tanaman. Tanaman yang tingginya sudah 10-15 cm diikat ke turus dan setiap penambahan tinggi 20 cm diikat kembali ke turus agar tanaman tidak rebah. Pengikatan jangan terlalu kuat agar tidak terjadi luka. Pengikatan menggunakan model angka 8 sehingga tidak terjadi gesekan antara batang dan turus.
e. Pewiwilan
Pewiwilan merupakan proses penghilangan tunas air yakni tunas yang tumbuh di ketiak batang dan tidak produktif atau sedikit menghasilkan bunga. Pewiwilan dilakukan menggunakan tangan atau gunting. Lakukan pada pagi hari sehingga siang hari bekas luka akan cepat kering
f. Pemberantasan Hama dan Penyakit Tanaman
Pemberantasan hama penyakit dilakukan secara organik agar buah tidak mengandung residu bahan kimia yang berbahaya. Selain itu pemberian pestisida kimiawi mengeluarkan residu di udara yang berbahaya bila terisap oleh anak. Pestisida nabati yang digunakan dapat ditemui di lingkungan sekitar.
a. Mimba (Azadiracta indica)
Cara pembuatannya dapat dilakukan dengan mengambil 2 genggam bijinya lalu ditumbuk. Campur dengan 1 liter air, kemudian diaduk sampai rata. Biarkan selama 12 jam, kemudian disaring. Bahan saringan tersebut merupakan bahan aktif yang penggunaannya harus ditambah dengan air sebagai pengencer. Cara lainnya adalah dengan menggunakan daunnya sebanyak 1 kg yang direbus dengan 5 liter air. Rebusan ini didiamkan selama 12 jam, kemudian saring. Air saringannya merupakan bahan pestisida alami yang dapat digunakan sebagai pengendali berbagai hama .
b. Tembakau (Nicotium tabacum)
Tembakau diambil batang atau daunnya untuk digunakan sebagai bahan pestisida alami. Caranya rendam batang atau daun tembakau selama 3 - 4 hari atau bisa juga dengan direbus selama 15 menit. Kemudian biarkan dingin lalu saring. Air hasil saringan ini bisa digunakan untuk mengusir berbagai jenis hama tanaman.
c. Tuba, Jenu (Derriseleptica)
Bahan yang digunakan bisa dari akar dan kulit kayu. Caranya dengan menumbuk bahan tersebut sampai hancur. Kemudian campur dengan air untuk dibuat ekstrak. Campur setiap 6 (enam) sendok makan ekstrak tersebut dengan 3 liter air. Campuran ini bisa digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis hama tanaman.
d. Temu-temuan (Temu Hitam, Kencur, Kunyit)
Bahan diambil dari rimpangnya, yang kemudian ditumbuk halus dengan dicampur urine (air kencing) sapi. Campuran ini diencerkan dengan air dengan perbandingan 1 : 6 liter. Gunakan untuk mengendalikan berbagai jenis serangga penyerang tanaman.
e. Kucai (Allium schonaoresum)
Cara meramunya adalah dengan menyeduhnya, dinginkan. lalu saring. Air saringannya ini mampu untuk memberantas hama yang biasanya menyerang tanaman mentimun.
f. Bawang Putih (Allium sativum)
Bawang putih, bawang bombai dan cabai, digiling lalu tambahkan air sedikit, dan kemudian diamkan sekitar 1 jam. Lalu berikan 1 sendok makan deterjen, aduk sampai rata, dan kemudian ditutup. Simpan di tempat yang dingin selama 7 - 10 hari. Bila ingin menggunakannya, campur ekstrak tersebut dengan air. Campuran ini berguna untuk membasmi berbagai hama tanaman.
g. Kembang Kenikir (Tagetes spp)
Ambil daunnya 2 genggam, kemudian campur dengan 3 siung bawang putih, 2 cabai kecil dan 3 bawang bombay. Dari ketiga bahan tersebut dimasak dengan air lalu didinginkan. Kemudian tambahkan 4 - 5 bagian air, aduk kemudian saring. Air saringan tersebut dapat digunakan untuk membasmi berbagai hama tanaman.
h. Cabai Merah (Capsium annum)
Cara pembuatannya dengan mengeringkan cabai yang basah dulu. Kemudian giling sampai menjadi tepung. Tepung cabai tersebut kalau dicampur dengan air dapat digunakan untuk membasmi hama tanaman.
i. Kemangi (Ocimum sanetu)
Cara pembuatannya: kumpulkan daun kemangi segar, kemudian keringkan. Setelah kering, baru direbus sampai mendidih, lalu didinginkan dan disaring. Hasil saringan ini bisa digunakan sebagai pestisida alami.
j. Sirsak
Ambillah beberapa lembar daun sirsak sesuai kebutuhan, tumbuk daun hingga halus dan peras air dari daun tersebut. Air perasan tersebut langsung disemprotkan ke tanaman yang terserang hama.
4. Pemanenan
Bunga mulai keluar saat tanaman berumur 2-3 bulan. Bunga akan mekar dalam waktu 2-3 hari. Buah akan matang saat berumur 60-75 hari. Panen dilakukan bertahap sesuai dengan kondisi buah yang siap panen dengan interval 2-3 hari sekali. Petik buah apabila sudah matang 80-90%. Pemanenan sebaiknya dilakukan saat pagi hari agar luka bekas potongan tangkai buah yang matang cepat kering di siang hari.


















